Posted by: akbarmatch | April 8, 2009

penghasil energi pada manusia

DALAM sel manusia dan makhluk pada umumnya, perubahan susunan molekul suatu zat selalu disertai dengan terjadinya perubahan energi. Penggunaan atau pengeluaran energi dalam perubahan bentuk molekul itu, akan mengubah tingkat energi potensial jadi lebih rendah/lebih tinggi dari asal.

Mengeluarkan energi (eksergonik) sesungguhnya menyimpan energi dalam ikatan kimia baru yang berenergi potensial lebih rendah dari ikatan kimia semula. Energi kinetis yang dihasilkan adalah dengan lepasnya gugus P dari ATP: ATP -> ADP+P. Menerima energi (endergonik) berarti meresap energi dalam ikatan kimia baru yang energi potensialnya lebih besar dari ikatan kimia semula, dalam hal ini ADP bereaksi kembali dengan P membentuk ATP.

Reaksi 1 (ke kanan) disebut eksergonik, menghasilkan energi. Reaksi 2 (ke kiri) disebut endergonik, menerima (menggunakan) energi.

Contoh reaksi 1) ialah reaksi pernafasan sel. Contoh reaksi 2) ialah fotosintesa pada daun tumbuhan, energi yang dipakai berasal dari cahaya matahari.

Pengeluaran energi pada reaksi ekstergonik biasa berupa panas atau cahaya. Tetapi reaksi kimia dalam sel hampir selalu dijaga bersuhu tetap. Itu karena energi kimia yang lepas diubah dalam bentuk energi kimia dan panas yang keluar sedikit sekali. Yang berperan dalam pemindahan energi dalam sel ialah ATP dan pecahannya berupa ADP dan AMP (ATP = adenosin triposfat; ADP = adenosin diposfat; AMP = adenosin monoposfat).

Kalau satu gugus P (PO4-3, posfat) dikeluarkan dari ATP (A-P-P-P) dan terbentuk ADP (A-P-P) + P, keluar energi sebesar 10 kcal/mol. Begitu pula kalau satu gugus P keluar dari ADP.

Gugus P yang keluar dari ATP atau ADP dapat dipindahkan ke molekul lain disertai dengan pengeluaran panas yang sedikit sekali. P dapat bereaksi kembali dengan ADP membentuk ATP:ADP + P — ATP. Untuk ini perlu reaksi endergonik. Misalnya mereaksikan asam glutamat dengan amonia (NH3) membentuk glutamin, reaksi adalah endergonik:

asam glutamat + NH3 — glutamin

ATP ADP + P

Bahan makanan lain, yaitu polisakarida, sukrosa, lemak, dan protein dapat pula jadi sumber energi dengan memecah molekulnya jadi molekul sederhana, baru kemudian masuk reaksi pernafasan.

Penggunaan energi dalam sel sangat irit. Penggunaan energi di alam hanya termanfaatkan sekitar 25 persen, sisanya terbuang berupa panas dan terbentuk banyak ampas berupa asap, jelaga, lelatu, dan gas. Tetapi penggunaan energi dalam sel termanfaatkan sampai 60 persen dan panas yang keluar dan ampas metabolisme sedikit sekali. Ini berkat kehadiran enzim dan ATP-ADP dalam setiap reaksi kimia dalam metabolisme maupun aktivitas lain dalam sel.

Bagi semua makhluk organel pembangkit energi ialah kloroplas dan mitokondria. Kloroplas mengandung klorofil, dan dengan energi cahaya matahari disimpan dalam molekul organik lewat proses fotosintesa. Lewat proses pernapasan mitokondria mengoksidasi molekul organik yang disintesa oleh tumbuhan itu, sehingga terbentuk ATP. Sel hewan tidak memiliki kloroplas, dengan demikian organel pembangkit energi hanya mitokondria.

Di alam terdapat daur energi antar-makhluk. Oleh fotosintesa dan energi matahari terbentuk bahan organik. Bahan organik tumbuhan dimakan hewan. Selain jadi bahan baku sel baru, ia diubah jadi energi. Ampas pernapasan CO2 + H2O dari hewan dipakai tumbuhan untuk fotosintesa, ampas metabolisme dan busukan tubuhnya juga sumber nitrat dan diubah jadi protein oleh tumbuhan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: